Expert Judgement Validitas Modul Pembelajaran Interaktif

Validitas Modul Pembelajaran Interaktif Kelas 5 SD pada   Materi Mengenal Organ Tubuh Manusia Pendahuluan Pengembangan modul pembelajaran interaktif untuk siswa sekolah dasar saat ini menjadi salah satu upaya penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Modul interaktif dipandang mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik, menumbuhkan motivasi, serta membantu siswa memahami materi dengan lebih mudah melalui kombinasi teks, gambar, audio, animasi, dan aktivitas. Salah satu materi yang memiliki tingkat kompleksitas cukup tinggi bagi siswa kelas 5 SD adalah materi mengenal organ tubuh manusia. Materi ini tidak hanya memerlukan pemahaman konsep, tetapi juga kemampuan siswa dalam mengidentifikasi fungsi serta letak organ dalam tubuh. Agar modul pembelajaran interaktif yang dikembangkan dapat digunakan secara efektif, diperlukan proses validasi untuk memastikan bahwa isi, penyajian, tampilan, dan kegunaannya sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Salah satu metode validas...

Tips Menyusun Skripsi dan Tesis Bagian 8.

Desain Penelitian Kuantitatif: Panduan Praktis Menyusun Variabel, Hipotesis, dan Pengukuran Data


A. Pendahuluan: Mengapa Desain Penelitian Itu Penting

Penelitian kuantitatif merupakan pendekatan metodologis yang berakar pada filsafat positivisme, yang secara inheren memerlukan pengukuran fenomena secara objektif menggunakan data numerik. Karakteristik utama dari metode ini adalah sifatnya yang spesifik, jelas, dan terperinci, di mana data yang digunakan berupa angka. Penggunaan data berbentuk angka memungkinkan makna yang jelas dan dapat dihitung, sehingga memberikan gambaran yang mendetail tanpa memerlukan penjelasan kualitatif yang panjang.

Dalam konteks pengujian teori dan validasi model, penelitian kuantitatif memainkan peran sentral. Metode ini sering diaplikasikan untuk menguji hipotesis yang telah diformulasikan sebelumnya, mengukur kekuatan hubungan antar variabel, dan mengevaluasi efektivitas intervensi atau program tertentu. Kualitas dari penelitian kuantitatif sangat bergantung pada keketatan metodologi yang diterapkan. Keberhasilan dalam menghasilkan data yang spesifik dan terperinci membutuhkan instrumen ukur yang teruji. Oleh karena itu, rigor metodologis yang dijabarkan dalam Bab III laporan penelitian (Desain, Variabel, dan Teknik Sampling) berfungsi sebagai fondasi validasi sebelum hasil analisis statistik dapat dianggap tepercaya.

Setiap penelitian kuantitatif dimulai dengan desain penelitian yang jelas. Desain ini ibarat peta jalan riset — membantu peneliti memahami apa yang ingin dicapai, bagaimana cara mengukurnya, dan software apa yang paling tepat digunakan. Dengan desain yang baik, peneliti bisa mengubah ide menjadi data terukurmengontrol variabel yang memengaruhi hasil, dan menguji hipotesis secara objektif.

Beberapa fungsi desain yang baik, antara lain:

1. Menjamin Validitas dan Keandalan (Reliabilitas)

  • Validitas Internal: Desain yang baik memastikan bahwa hasil yang Anda peroleh benar-benar disebabkan oleh variabel independen, bukan oleh faktor pengganggu (variabel luar) lainnya. Ini penting, misalnya, dalam penelitian eksperimen.
  • Keandalan (Reliabilitas): Desain yang jelas memungkinkan peneliti lain mengulangi prosedur yang sama dan kemungkinan besar akan mendapatkan hasil yang serupa. Ini menegaskan bahwa instrumen dan prosedur yang Anda gunakan konsisten.

2. Memberikan Struktur dan Efisiensi

  • Peta Jalan: Desain menentukan langkah-langkah spesifik—mulai dari cara pengambilan sampel, pengumpulan data, hingga metode analisis. Ini mencegah peneliti menyimpang dari tujuan awal.
  • Efisiensi Sumber Daya: Dengan rencana yang jelas, Anda dapat mengalokasikan waktu, anggaran, dan sumber daya secara optimal. Desain yang buruk sering kali mengakibatkan pemborosan karena harus mengulang proses atau mengumpulkan data yang salah.

3. Memungkinkan Pengujian Hipotesis yang Tepat

  • Menghubungkan Konsep ke Data: Desain penelitian memilih format yang paling sesuai untuk menguji dugaan sementara (hipotesis) Anda. Misalnya, untuk menguji hubungan sebab-akibat, Anda memerlukan Desain Eksperimen; untuk menguji korelasi, Anda mungkin menggunakan Desain Korelasional.
  • Pemilihan Statistik: Jenis desain yang Anda pilih akan menentukan jenis analisis statistik yang harus digunakan (misalnya, regresi, t-test, ANOVA). Desain yang salah akan menghasilkan analisis yang tidak tepat, dan kesimpulan yang keliru.

4. Meningkatkan Generalisasi Temuan

  • Validitas Eksternal: Desain yang solid (terutama yang melibatkan teknik pengambilan sampel yang representatif) memastikan bahwa temuan Anda tidak hanya berlaku untuk sampel yang Anda teliti, tetapi dapat digeneralisasikan atau diberlakukan pada populasi yang lebih luas. Hal ini membuat hasil penelitian Anda lebih relevan dan berdampak.

Singkatnya, Desain Penelitian adalah tulang punggung metodologi. Ini adalah jaminan bahwa penelitian Anda dilakukan secara sistematis, etis, dan mampu menjawab pertanyaan penelitian secara meyakinkan.


1. Klasifikasi Desain Berdasarkan Tujuan

Secara umum, penelitian kuantitatif mencakup beberapa pendekatan:

  • Penelitian Berbasis Hipotesis: Pendekatan ini merupakan fondasi utama kuantitatif, di mana peneliti memulai dengan dugaan sementara (hipotesis) yang kemudian diuji validitasnya untuk mengkonfirmasi atau menolak klaim yang dibuat berdasarkan teori atau observasi terdahulu.
  • Penelitian Asosiatif Kausal: Bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh atau hubungan sebab-akibat antara variabel bebas terhadap variabel terikat.
  • Penelitian Inferensial: Melibatkan analisis hubungan antar variabel dengan pengujian hipotesis, di mana kesimpulan yang ditarik melampaui sajian data kuantitatif semata.
  • Penelitian Eksperimental dan Kausal Komparatif: Desain yang sering digunakan untuk menguji hubungan sebab-akibat, meskipun Kausal Komparatif tidak melibatkan manipulasi variabel secara penuh seperti Eksperimental.

Secara skematis jenis penelitian dapat dikategorikan berdasarkan tujuan serta bidang dan software yang sesuai:

Tabel 1. Skema Kategorisasi Jenis Penelitian

Jenis Penelitian

Tujuan Utama

Bidang yang Cocok

Contoh Analisis

Software yang Umum Digunakan

Deskriptif

Mendeskripsikan fenomena dengan angka

Pendidikan, sosial, pemasaran

Rata-rata, frekuensi, persentase

Excel, SPSS

Korelasional

Mengukur hubungan antarvariabel

Psikologi, manajemen, ekonomi

Korelasi Pearson, regresi sederhana

SPSS

Komparatif (Causal-Comparative)

Membandingkan dua kelompok atau lebih

Pendidikan, kesehatan, sosial

Uji t, ANOVA

SPSS, JASP

Eksperimen

Menguji hubungan sebab-akibat dengan perlakuan (treatment)

Sains, pendidikan, psikologi

Uji t, ANCOVA

SPSS, JASP

Time Series (Runtun Waktu)

Melihat pola data berdasarkan waktu

Ekonomi, keuangan, demografi

Regresi time series, ARIMA

EViews

Regresi Berganda / Linier / Nonlinier

Memprediksi pengaruh beberapa variabel independen

Bisnis, sosial, psikologi

Uji regresi

SPSS, Minitab

Structural Equation Modeling (SEM)

Menguji hubungan langsung dan tidak langsung antarvariabel

Manajemen, pemasaran, psikologi

SEM-PLS, CFA

SmartPLS, AMOS, LISREL


Beberapa Tips penggunaan software statistik:

  • Gunakan SPSS untuk analisis dasar dan umum di skripsi.
  • Gunakan SmartPLS atau AMOS untuk model struktural.
  • Gunakan EViews untuk data ekonomi atau keuangan yang bersifat waktu (time series).

Singkatnya, Desain Penelitian adalah tulang punggung metodologi. Ini adalah jaminan bahwa penelitian Anda dilakukan secara sistematis, etis, dan mampu menjawab pertanyaan penelitian secara meyakinkan.


2. Jenis-jenis Variabel dalam Penelitian Kuantitatif

Dalam riset kuantitatif, variabel menjadi inti utama. Tanpa variabel yang jelas, hipotesis tidak bisa diuji.Variabel merupakan komponen utama dalam perumusan hipotesis. Agar konsep dapat diteliti secara empiris, konsep harus dirumuskan secara operasional dengan mengubahnya menjadi variabel. Dalam penelitian kuantitatif, variabel dapat diklasifikasikan berdasarkan peranannya.

a. Variabel Dasar (Hubungan Kausal)
  • Variabel Bebas (Independen/X): Variabel yang diduga memengaruhi atau menjadi sebab perubahan pada variabel lain.
  • Variabel Terikat (Dependen/Y): Variabel yang merupakan akibat dari perubahan yang diakibatkan oleh variabel bebas.

b. Variabel Laten (Konstruk)

Variabel laten adalah variabel yang tidak dapat diukur secara langsung. Mereka diukur menggunakan satu atau lebih variabel manifes (indikator), seperti kinerja auditor yang diukur dengan indikator pengalaman, pengetahuan, kemampuan, dan ketaatan kode etik.

  • Variabel Eksogen: Variabel laten yang memengaruhi variabel endogen dalam suatu model
  • Variabel Endogen: Variabel laten yang dipengaruhi oleh variabel eksogen dalam suatu model

c. Variabel Hubungan (Mediator dan Moderator)

Variabel ini digunakan dalam analisis yang lebih kompleks, seperti Regresi Berganda atau Structural Equation Modeling (SEM). Berikut skematisasi perbedaan variabel hubungan :

Tabel 2. Skema Perbedaan Variabel Hubungan

Aspek

Variabel Mediasi (Mediator)

Variabel Moderasi (Moderator)

Definisi Konseptual

Variabel yang menjelaskan bagaimana variabel bebas (eksogen) memengaruhi variabel terikat (endogen).

Variabel yang menguji kondisi atau kapan hubungan antara variabel bebas dan terikat menjadi lebih kuat atau lebih lemah.

Fungsi Utama

Menjadi perantara (intervening) atau menjelaskan mekanisme hubungan tidak langsung.

Menentukan intensitas atau arah hubungan (memperkuat atau memperlemah).

Pertanyaan Kunci

Melalui apa atau Mengapa memengaruhi?

Kapan atau Dalam kondisi apa hubungan antara dan terjadi?

Istilah/Sebutan

Sering disebut sebagai Variabel Mediator (nama variabelnya) atau Variabel Intervening.

Sering disebut sebagai Variabel Moderator (nama variabelnya).

Posisi dalam Model

Terletak di antara variabel bebas dan variabel terikat.

Memengaruhi kekuatan jalur hubungan langsung antara variabel bebas dan variabel terikat.

Teknik Analisis

Diuji menggunakan analisis jalur (Path Analysis) atau Regresi Berganda dengan langkah khusus (misalnya metode Baron & Kenny), atau SEM/SmartPLS.

Diuji dengan mengalikan variabel moderasi dengan variabel bebas untuk menghasilkan efek interaksi (uji regresi berganda) atau dengan Multi-Group Analysis di SEM/SmartPLS.


Secara skematis kategorisasi variabel penelitian dapat dilihat pada tabel 3. berikut:

Tabel 3. Skema Kategorisasi Variabel Penelitian

Jenis Variabel

Pengertian

Fungsi

Contoh

Variabel Independen (X)

Variabel yang memengaruhi variabel lain

Penyebab

Gaya kepemimpinan, motivasi

Variabel Dependen (Y)

Variabel yang dipengaruhi

Akibat

Kinerja karyawan, kepuasan pelanggan

Variabel Mediasi (Intervening)

Menjelaskan hubungan antara X dan Y

Perantara

Kepuasan → Loyalitas

Variabel Moderasi

Memperkuat atau memperlemah hubungan X dan Y

Pengontrol

Jenis kelamin, usia

Variabel Eksogen (SEM)

Variabel penyebab dalam model struktural

Sebab utama

Persepsi kualitas layanan

Variabel Endogen (SEM)

Variabel akibat dalam model struktural

Hasil akhir

Loyalitas pelanggan

Variabel Kontrol

Dikendalikan agar tidak memengaruhi hasil

Pengendali luar

Latar belakang pendidikan


3. Perumusan Hipotesis dalam Kuantitatif

Hipotesis adalah jawaban sementara atas masalah penelitian yang kemudian diuji kebenarannya menggunakan data.13 Dalam penelitian kuantitatif, hipotesis yang dirumuskan adalah Hipotesis Deduktif, yang didasarkan pada teori ilmiah yang telah ada.14

a. Jenis-Jenis Hipotesis Berdasarkan Rumusan

  • Hipotesa Kerja (H1 atau Ha): Jawaban sementara yang dipersiapkan untuk diterima, merupakan sintesis dari kajian teoritis.14

  • Hipotesa Nol (H0): Lawan dari hipotesis kerja, sengaja dipersiapkan untuk ditolak. Biasanya menyatakan tidak ada hubungan atau tidak ada perbedaan.14

b. Jenis-Jenis Hipotesis Berdasarkan Bentuk

Hipotesis juga dapat dibedakan berdasarkan sifat rumusan masalahnya:

  • Hipotesis Deskriptif: Dugaan terhadap permasalahan yang berhubungan dengan variabel tunggal.14

    • Contoh H0: Jamu yang dijual di pasaran tersebut mengandung bahan kimia berbahaya.14

  • Hipotesis Komparatif: Dugaan untuk menjawab pertanyaan perbandingan antara dua variabel.14

    • Contoh H0: Tingkat kematian akibat virus corona tidak berbeda dengan tingkat kematian akibat virus flu burung.14

  • Hipotesis Asosiatif: Dugaan untuk menjawab pertanyaan adakah hubungan antara dua variabel penelitian.14

    • Contoh H0: Tingkat keparahan akibat infeksi virus corona tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin penderita.14

c. Ciri-Ciri Perumusan Hipotesis yang Benar

Agar dapat diuji, hipotesis harus dirumuskan dengan benar 14:

  • Harus menyatakan pertautan antara dua variabel atau lebih (minimal dua variabel, meskipun deskriptif disebut variabel tunggal).14
  • Hendaknya dinyatakan secara deklaratif (kalimat pernyataan).14
  • Harus dirumuskan dengan jelas, singkat, padat.14
  • Harus dapat diuji kebenarannya secara empiris.14
  • Harus berdasarkan pada pendapat atau hasil penelitian terdahulu.14


4. Operasionalisasi Variabel: Menghubungkan Konsep dengan Data Empiris

Langkah penting berikutnya adalah mengubah konsep teoritis menjadi indikator yang bisa diukur. Hal ini disebut operasionalisasi variabel.

Agar konsep-konsep teoritis yang diangkat dalam hipotesis dapat diuji secara empiris, konsep tersebut harus diubah menjadi variabel yang dapat diukur melalui proses yang disebut Operasionalisasi Variabel. Definisi operasional variabel menjelaskan secara rinci bagaimana variabel tersebut diukur dalam penelitian, termasuk indikator, item instrumen, dan skala pengukuran yang digunakan.

Definisi operasional berfungsi sebagai jembatan yang mengubah variabel laten (konsep abstrak yang tidak dapat diukur langsung, seperti kinerja) menjadi variabel manifes yang dapat diukur melalui data primer, misalnya dengan kuesioner atau wawancara.

Pengukuran variabel kuantitatif umumnya melibatkan:

  • Indikator: Aspek-aspek spesifik dari variabel yang memberikan petunjuk mengenai keberadaan atau tingkat variabel tersebut.   

  • Item Instrumen: Pernyataan atau pertanyaan konkret yang digunakan dalam kuesioner untuk mengumpulkan respon dari responden.   

  • Skala Pengukuran: Skala yang digunakan untuk mengukur respons, seperti skala Likert.

Dalam penelitian mengenai audit, variabel laten seperti Kinerja Auditor diukur menggunakan serangkaian indikator yang telah dikembangkan secara teoretis : 

a. Definisi Operasional:

Ukuran yang digunakan untuk menetapkan perbandingan hasil pelaksanaan tugas dan tanggung jawab auditor pada periode tertentu.

b. Indikator Utama:

Variabel ini diukur melalui empat indikator utama :

  • Pengalaman
  • Pengetahuan
  • Kemampuan
  • Ketaatan Kode Etik

c. Instrumen dan Skala:

Indikator-indikator tersebut kemudian diukur menggunakan item instrumen spesifik (misalnya, total enam item instrumen) dengan skala pengukuran Likert 1-5. Respon responden terhadap item-item ini (misalnya, sangat tidak setuju hingga sangat setuju) diubah menjadi data numerik yang siap dianalisis secara statistik.

Berikut contoh operasionalisasi variabel.

Tabel 4. Operasionalisasi Variabel

Variabel

Indikator

Skala Pengukuran

Teknik Ukur

Motivasi Belajar (X1)

Ketekunan, minat, semangat

Skala Likert

Kuesioner

Kepuasan Belajar (Z)

Kenyamanan, keterlibatan, pengalaman positif

Skala Liker

Kuesioner

Prestasi Belajar (Y)

Nilai ujian, rata-rata tugas

Rasio

Dokumen Nilai


5. Penentuan Ukuran Sampel dan Teknik Sampling

Penelitian kuantitatif memerlukan penjelasan yang jelas mengenai darimana data diperoleh (Populasi) dan bagaimana data tersebut dipilih (Sampel). Sampel adalah bagian dari populasi yang digunakan untuk pengumpulan data. Prinsip utama adalah bahwa sampel harus bersifat representatif agar hasil penelitian dapat digeneralisasi kembali ke populasi.

Metode pengambilan sampel harus terkait dengan metode pengumpulan data yang digunakan.Terdapat dua kategori utama:

  • Probability Sampling: Setiap elemen dalam populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih, memastikan representasi statistik.
  • Non-Probability Sampling: Teknik yang tidak memberikan peluang yang sama bagi setiap elemen populasi untuk dipilih. Contohnya adalah Purposive Sampling (Pengambilan Sampel Bertujuan), yang didasari pada ciri-ciri atau kriteria tertentu yang relevan dengan kebutuhan penelitian. Misalnya, kriteria sampel dapat mencakup batasan usia atau status pekerjaan spesifik.

Penentuan ukuran sampel (n) sangat penting untuk memastikan sampel representatif dan memenuhi persyaratan ambang batas statistik (misalnya, untuk PLS-SEM yang sensitif terhadap ukuran sampel kecil). Dua rumus yang sering digunakan untuk menentukan ukuran sampel minimum dari populasi yang diketahui adalah Slovin dan Cochran.

a. Rumus Slovin

Rumus Slovin digunakan untuk menentukan ukuran sampel dari populasi (N) yang ukurannya diketahui, dengan mempertimbangkan tingkat toleransi kesalahan (e) yang diinginkan oleh peneliti (misalnya 1%, 5% atau 10%).

Contoh Aplikasi: Jika Populasi (N) diketahui sebesar 2.000 karyawan, dan peneliti menetapkan tingkat toleransi kesalahan (e) sebesar 5% (0.05).

Maka, sampel minimum yang dibutuhkan adalah 334 responden.

b. Rumus Cochran (Untuk Estimasi Proporsi)

Rumus Cochran (untuk populasi tak terhingga atau sangat besar) sering digunakan ketika fokus penelitian adalah mengestimasi proporsi populasi (p) dengan tingkat kepercayaan dan margin error (e) yang spesifik.

Di mana Z adalah skor baku Z yang terkait dengan tingkat kepercayaan, p adalah proporsi populasi yang diperkirakan (sering diasumsikan 0.5 untuk hasil maksimum), q adalah (1-p), dan e adalah margin of error yang dapat diterima. Meskipun Slovin fokus pada besarnya populasi yang diketahui, Cochran lebih fokus pada presisi estimasi proporsi (p) yang diinginkan.

Penentuan n melalui rumus ini memberikan dasar kuantitatif yang kuat. Jumlah sampel yang diperoleh (misalnya 97 responden seperti yang dicontohkan dalam beberapa penelitian asosiatif) harus dapat dipertanggungjawabkan baik secara perhitungan kuantitatif (Slovin/Cochran) maupun justifikasi kualitatif (teknik Purposive Sampling).


6. Prinsip Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Pengukuran

Setelah instrumen dikembangkan berdasarkan indikator dalam tabel operasionalisasi, peneliti wajib melakukan uji validitas dan reliabilitas. Uji ini bertujuan memastikan bahwa instrumen penelitian dapat dinyatakan tepat dan terpercaya untuk mengukur variabel yang diteliti.

  • Uji Validitas: Validitas adalah ukuran keampuhan suatu instrumen dalam mengukur variabel yang diteliti. Dalam analisis model pengukuran, seperti PLS-SEM, validitas diuji melalui Convergent Validity dan Discriminant Validity. Convergent Validity dievaluasi berdasarkan nilai loading factor setiap indikator. Indikator dianggap valid jika nilai korelasi (loading factor atau r_hitung) melebihi nilai ambang batas. Nilai ideal adalah lebih besar dari 0,70; namun, untuk penelitian tahap awal atau riset skala pengembangan, nilai loading antara 0,50 hingga 0,60 masih dapat diterima.
  • Uji Reliabilitas: Reliabilitas mengacu pada konsistensi instrumen. Pengujian reliabilitas dapat dilakukan menggunakan Cronbach Alpha atau Composite Reliability (jika menggunakan PLS).2 Data yang berkualitas tinggi dan analisis statistik yang sahih hanya dapat dicapai jika instrumen lolos kedua pengujian ini, yang berarti bahwa indikator yang dipilih melalui proses operasionalisasi benar-benar stabil dalam mengukur konsep.

Tabel 5. Tabel Komprehensif Operasionalisasi Variabel (Contoh Kasus: Kepuasan Konsumen)

Variabel

Definisi Konseptual

Dimensi/Indikator

Skala Pengukuran

Teknik Ukur

X1: Kualitas Layanan

Penilaian konsumen terhadap mutu pelayanan yang diberikan.

1. Ketanggapan 2. Kehandalan 3. Empati.

Likert 5 Poin (1=STS, 5=SS)

Kuesioner/Angket

Y: Kepuasan Konsumen

Perasaan senang/kecewa setelah membandingkan kinerja produk/layanan dengan harapannya.

1. Kesesuaian Harapan.

2. Minat Pembelian Ulang.

Likert 5 Poin

Kuesioner/Angket


7. Implementasi Praktis: Preparasi Data Menggunakan Excel dan SPSS

Setelah data dikumpulkan melalui kuesioner, tahapan selanjutnya adalah data cleaning dan coding di perangkat lunak statistik. Analisis data yang digunakan, termasuk perangkat lunak (software) seperti SPSS atau SmartPLS, harus dideskripsikan.6

a. Perancangan Coding Variabel di Microsoft Excel

Langkah pertama dalam preparasi data adalah menyusun data mentah dari kuesioner ke dalam format long data (setiap baris mewakili responden, dan setiap kolom mewakili variabel atau indikator) di Excel.

Proses coding data Skala Likert sangat penting. Jawaban kuesioner kualitatif (misalnya, Sangat Setuju, Tidak Setuju) harus dikonversi menjadi skor numerik (misalnya, 5, 4, 3, 2, 1). Penting diperhatikan bahwa setiap indikator yang dihasilkan dari proses operasionalisasi variabel harus memiliki kolom terpisah di Excel (misalnya, X1_Indikator1, X1_Indikator2). Hal ini diperlukan karena uji validitas instrumen (r_hitung) dilakukan pada tingkat item/indikator, bukan hanya pada variabel secara keseluruhan.

b. Strukturisasi Data di IBM SPSS Statistics (Data View & Variable View)

Data yang telah di-coding di Excel kemudian diimpor ke SPSS. Konfigurasi yang paling penting terletak pada Variable View, yang berfungsi sebagai metadata variabel dan memengaruhi pilihan uji statistik.

1) Konfigurasi Variable View (Metadata Variabel)

  • Name: Nama singkat variabel atau indikator (misalnya, X1_R1 untuk Indikator Responsiveness Variabel X1). Nama ini harus unik.
  • Label: Deskripsi lengkap variabel (misalnya, "Kualitas Layanan - Indikator 1: Ketanggapan").
  • Values: Digunakan untuk mendefinisikan kode numerik menjadi label kategorikal, terutama untuk data Ordinal atau Nominal (misalnya, 1 = Sangat Tidak Setuju, 5 = Sangat Setuju).
  • Measure: Penentuan skala pengukuran (Scale, Ordinal, atau Nominal). Keputusan ini adalah titik kritis metodologis. Jika data Likert (yang secara teknis Ordinal) diperlakukan sebagai Scale (Interval/Rasio), peneliti secara statistik mengasumsikan jarak antar kategori adalah sama. Justifikasi ini harus kuat karena memungkinkan penggunaan statistik parametrik (misalnya, Regresi Linier).2

Tabel 6.  Contoh Struktur Variable View di SPSS

Name

Type

Label

Values

Measure

Keterangan

ID_Resp

Numeric

ID Responden

None

Nominal

Variabel identitas.

X1_R1

Numeric

Indikator Responsiveness

1=STS, 5=SS

Ordinal

Data Likert dari Kuesioner.

Y_TOTAL

Numeric

Total Skor Kepuasan Konsumen

None

Scale

Jika data dihitung totalnya dan diperlakukan sebagai Interval untuk uji parametrik.


2) Input dan Organisasi Data di Data View

Data View menampilkan data mentah numerik, yang merupakan representasi langsung dari data Excel, namun diinterpretasikan sesuai konfigurasi metadata di Variable View. Setiap baris mewakili satu kasus (responden), dan setiap kolom merepresentasikan nilai skor pada indikator atau variabel yang telah dikonfigurasi.


8. Software Statistik yang Sering digunakan

Beberapa perangkat lunak statistik yang dapat digunakan untuk membantu mengolah data hasil penelitian antara lain:

Tabel 7. Software Statistik yang Umum Digunakan

Jenis Analisis

Tujuan

Software Rekomendasi

Uji Korelasi & Regresi

Menguji hubungan antarvariabel

SPSS, Excel

Uji Perbedaan (t-test, ANOVA)

Membedakan kelompok

SPSS, JASP

SEM & CFA

Hubungan kompleks antarvariabel

SmartPLS, AMOS, LISREL

Analisis Time Series

Melihat tren dari waktu ke waktu

EViews

Prediksi Multivariat

Analisis lanjutan

Minitab, R, Python


B. Kesimpulan dan Implikasi Metodologis

Penelitian kuantitatif yang kuat selalu dimulai dengan desain penelitian yang jelas, variabel terdefinisi baik, dan hipotesis yang dapat diuji secara statistik. Pemilihan jenis penelitian, ukuran sampel, serta software analisis yang tepat akan menghasilkan riset yang kredibel dan bermanfaat.

1. Sinkronisasi Desain, Variabel, dan Hipotesis

Integritas metodologis dalam penelitian kuantitatif terletak pada sinkronisasi yang sempurna antara desain penelitian yang dipilih, tipologi variabel yang digunakan, dan formulasi hipotesis. Desain penelitian (misalnya, Korelasional) membatasi jenis klaim yang dapat dibuat dalam Hipotesis Alternatif (Ha​)—yaitu, hanya hubungan, bukan kausalitas. Klaim ini hanya dapat diuji jika variabel telah dioperasionalisasikan secara ketat, memecah konsep abstrak menjadi indikator yang terukur.

Rigor yang dimulai dari penentuan Definisi Operasional menghasilkan instrumen yang divalidasi dan direliabilitas. Data yang dihasilkan dari instrumen yang teruji ini kemudian dipersiapkan melalui coding di Excel dan diatur dalam Variable View SPSS, di mana peneliti harus membuat keputusan metodologis krusial terkait skala pengukuran (Scale, Ordinal) yang akan memengaruhi seluruh analisis inferensial.

2. Rekomendasi Langkah Selanjutnya (Uji Instrumen dan Analisis Inferensial)

Setelah tahap persiapan data di Excel dan SPSS selesai, proses penelitian kuantitatif berlanjut ke tahap pengujian inferensial untuk memverifikasi atau menolak hipotesis yang diajukan.

  • Pengujian Instrumen: Langkah pertama pasca-preparasi data adalah konfirmasi akhir Validitas (misalnya, Convergent Validity melalui loading factor $ > 0,50$) dan Reliabilitas (misalnya, Cronbach Alpha) instrumen.
  • Analisis Inferensial dan Pengujian Hipotesis: Setelah instrumen dipastikan layak, dilakukan analisis untuk menguji hipotesis. Metode seperti regresi berganda atau Partial Least Square (PLS) dapat digunakan. Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh atau hubungan signifikan variabel eksogen terhadap endogen.
  • Pengambilan Keputusan Statistik: Kaidah pengambilan keputusan didasarkan pada nilai signifikansi (p-value). Dengan tingkat signifikansi (α) 0,05 (5%), jika nilai signifikan t yang dihasilkan dari analisis lebih kecil dari 0,05, maka Hipotesis Nol (H0​) ditolak, dan Hipotesis Alternatif (H1​) yang mendukung klaim peneliti diterima. Siklus pengujian ini, dari desain konseptual hingga keputusan statistik, mengakhiri pembuktian ilmiah dalam penelitian kuantitatif.


Jika Anda merasa proses penyusunan tugas akhir berjalan lambat atau penuh kebingungan, mencari pendamping akademik adalah langkah bijak. Bukan untuk menggantikan peran Anda, melainkan mempercepat pemahaman dan meningkatkan kualitas penelitian.

Jangan ragu mengambil dukungan yang tepat. Tanggung jawab akademik tetap di tangan Anda, dan pendamping akademik siap mendorong Anda menuju kelulusan dengan cara yang benar.


SIAP MEMULAI AKHIR PERJALANAN AKADEMIK BERSAMA KAMI?

HUBUNGI KAMI!


Baca artikel terbaru kami untuk memperluas wawasan dan menemukan solusi praktis dalam penyusunan skripsi:

Download program statistik gratis – siap pakai untuk analisis skripsimu!

Komentar